Polisi Hong Kong Tangkap 5 Penjual Buku, Dituduh Lakukan Hasutan

Polisi keamanan nasional Hong Kong menangkap lima penjual buku atas tuduhan melakukan tindakan dengan niat menghasut, Rabu (15/7/2026) malam.
Industri toko buku independen yang dulunya berkembang pesat di kota ini telah menyusut sejak Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional yang menyeluruh di Hong Kong pada 2020.
Banyak dari toko-toko ini menawarkan beragam judul buku politik dan sosial yang lebih luas daripada yang ditemukan di toko-toko umum.
Toko-toko ini menjadi saluran penting bagi masyarakat sipil Hong Kong dengan menyelenggarakan diskusi buku dan lokakarya.
Dituduh jual buku "hasutan"
Dikutip dari Reuters, polisi mengatakan, mereka menerima laporan dari Departemen Bea Cukai Hong Kong yang menyebut adanya kiriman buku dari luar negeri yang dinilai bermaksud menghasut.
Petugas menggeledah dua toko di Mong Kok di distrik Kowloon dan menangkap dua pria berusia 37 dan 57 tahun, serta tiga wanita, berusia 30 hingga 59 tahun.
"Penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa kelima orang yang ditangkap tersebut diduga memajang barang-barang dengan maksud menghasut dan menjual publikasi dengan isi yang menghasut di dalam toko-toko," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Disebutkan bahwa buku-buku itu berisi hasutan dan kebencian terhadap pemerintah Hong Kong, lembaga peradilan, serta lembaga penegak hukum.
"Sejumlah buku dengan niat menghasut telah disita dari toko-toko tersebut," bunyi pernyataan itu.
South China Morning Post mengidentifikasi toko buku tersebut sebagai 'Have a Nice Stay' dan Greenfield Bookstore.
Toko buku bakal tutup
'Have a Nice Stay' telah mengumumkan bahwa mereka akan tutup pada 30 Agustus, dengan alasan termasuk kerugian finansial dan garis merah yang sulit dipahami mengenai buku-buku apa yang mungkin dianggap bermasalah.
Penangkapan ini terjadi setelah polisi pada bulan Juni menangkap dua pemilik toko buku dalam kasus terpisah yang menurut pihak berwenang memajang dan menjual publikasi dengan konten hasutan.
Presiden Taiwan Lai Ching-te menulis di halaman Facebook-nya pada bahwa setiap toko buku independen adalah ruang penting untuk menjaga kebebasan berpikir.
"Kami ingin menyampaikan keprihatinan dan rasa hormat kami kepada semua toko buku dan pekerja budaya yang terus teguh dalam keadaan sulit. Pemikiran dan tulisan tidak boleh dipenjara karena tekanan politik," kata Lai.
Sebelumnya: Saham Induk Google Melesat 3 Persen Usai Kabar Pengembangan Chip AI Gemini
Selanjutnya: Alami Disfungsi Saluran Eustachius, IU Batalkan Konser dan Rilis Album
Artikel Terkait
- WN Singapura yang Bunuh Pacar di Bali Overstay Setahun, Polisi Telusuri Rekam Jejak
- PM Israel Dukung Argentina di Final Piala Dunia, Sebut Presiden Milei Sahabat
- Viral Pria Lempar Helm ke Tetangga Terekam CCTV di Depok, Polisi Selidiki
- Kapolresta Tangerang Sebut Hari Bhayangkara Jadi Momen untuk Berbenah
- Kemendagri Ungkap Perbedaan Pinjaman Sukuk & Obligasi Daerah
- Bareskrim Cabut Police Line dan CCTV Terkait Narkoba di New Star Bali
- Cerita Afgan Sempat Kehilangan Suaranya Jelang Konser Retrospektif
- Sego Wiwit yang Sulit Dijumpai, Kuliner Khas Yogya dan Simbol Syukur Petani
