Inovasi soal Evakuasi Korban Bencana Bikin Mata Dunia Tertuju ke China

Mata dunia tertuju pada inovasi yang dibuat China dalam mengevakuasi korban bencana. China menggunakan jembatan apung portabel untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir.
Dirangkum detikcom, Sabtu , Badan penanggulangan darurat China, Anneng Construction Group mengerahkan peralatan tersebut, yang dapat ditempatkan di air, dilipat, dan dihubungkan menjadi bagian yang lebih panjang untuk berfungsi sebagai feri darurat untuk penyelamatan di tengah banjir. Inovasi inilah yang kemudian menjadi sorotan dunia.
Kantor berita China, Xinhua yang menyebut platform raksasa itu sebagai 'Bahtera Nuh', melaporkan bahwa jembatan portabel itu memiliki kapasitas hingga 500 penumpang untuk sekali jalan.
Pada hari Rabu lalu, Anneng Construction Group, sebuah organisasi yang berawal dari batalyon teknik konstruksi militer, menggunakan jembatan ponton bertenaga mesin itu untuk mengevakuasi 6.000 orang yang terjebak banjir di Guigang, Guangxi.
Kedutaan Besar China di seluruh dunia telah membagikan rekaman penyelamatan di media sosial untuk menunjukkan kegunaan peralatan tersebut.
Tim tanggap darurat China juga menggunakan drone pengangkut berat untuk menyelamatkan korban dan mengirimkan pasokan makanan, melengkapi kemampuan awak helikopter pencarian dan penyelamatan. Helikopter konvensional juga aktif dalam operasi tersebut.
Dilansir The Economic Times, operasi ini telah menarik perhatian luas karena penggunaan teknologi penyelamatan inovatif dalam keadaan darurat skala besar. Gambar dan video yang dirilis oleh otoritas China menunjukkan respons terkoordinasi, menyoroti bagaimana peralatan teknik khusus dan sistem udara modern dapat memainkan peran penting dalam melindungi nyawa selama bencana alam.
Netizen dunia di berbagai platform media sosial ramai memuji penggunaan jembatan apung tersebut sebagai tindakan inovatif. Banyak pula yang menyebutnya sebagai bentuk kepedulian dan respons tanggap darurat pemerintah yang patut diacungi jempol terhadap warga terdampak banjir.
Awal pekan ini, curah hujan lebat akibat Badai Tropis Maysak menyebabkan Sungai Yu meluap. Sekitar 8.000 personel China telah dikerahkan untuk upaya penanggulangan, dan sekitar 130.000 penduduk telah diselamatkan.
Hingga saat ini, 39 orang telah meninggal, sebagian besar di Nanning, tempat jebolnya bendungan yang menyebabkan banjir bandang yang parah.
Sebelumnya: Pilihan Motor Listrik Bekas per Juli 2026, Harga mulai Rp 4,5 Jutaan
Selanjutnya: Untuk Pertama Kali, Sinar-X Berhasil Digunakan di Luar Angkasa
Artikel Terkait
- Fraksi PDI Perjuangan Desak Pemprov Sumut Investigasi Kelangkaan BBM
- Pengacara Tewas Usai Diduga Loncat dari Lantai 46 Apartemen di Jaksel
- Bang Jago Ngamuk Bawa Golok di Warung Jamu Bogor Jadi Tersangka
- 20 Tahun ke Depan, Laut Indonesia Terancam Kian Tercemar
- Trump Sebut Pemilu AS 2020 Diintervensi China
- Pemuda Jaksel Ciptakan Sirine Pendeteksi, Resah Kebanjiran Bertahun-tahun
- Cerita Sailah, dari Tanah ke Hunian Layak Berkat Bantuan Pemprov Jateng
- Nama Bayi Muhammad MBG Subianto di Wonosobo: Ini Alasan Pemilihannya dan Solusi Disdukcapil
