Memori Ngeri Bencana Lahar Dingin yang Menewaskan 25 Ribu Orang

Tragedi Armero merupakan salah satu bencana paling mengerikan di abad ke-20. Bencana yang dipicu oleh letusan gunung berapi Nevado del Ruiz di Kolombia ini menewaskan 25.000 orang.
Dikutip dari Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey , Nevado del Ruiz adalah gunung berapi tipe stratovulkan yang memiliki ketinggian 5.389 meter di atas permukaan laut, dengan bagian puncak yang ditutupi oleh gletser atau lapisan es.
Saat itu, Gunung Nevado del Ruiz mulai menunjukkan aktivitas sekitar satu tahun sebelum tragedi terjadi. Reaktivasi ini ditandai dengan munculnya rentetan gempa bumi . Aktivitas keluarnya uap dan gas di kawah puncak juga mulai tampak.
Pada tanggal 11 September 1985, terjadi letusan eksplosif kecil. Setelah letusan kecil ini dan meredanya situasi politik, para pejabat mulai bertemu dengan para ilmuwan untuk membahas potensi bahaya dan rencana evakuasi. Sayangnya, sebagian besar kawasan kota Armero masih terabaikan.
Bencana itu pun terjadi. Pada malam tanggal 13 November, sebagian besar penduduk Armero sudah terlelap tidur. Wali Kota dan pendeta setempat telah meyakinkan warga bahwa mereka aman untuk malam itu. Namun, letusan ini tidak disadari oleh penduduk Armero karena tersamarkan oleh hujan badai yang sedang berlangsung malam itu.
Lahar mengalir deras ke arah utara dan timur melalui lembah-lembah sungai yang dalam di kaki gunung. Banjir lahar mencapai kota Armero sekitar dua jam setelah letusan terjadi. Dalam hitungan menit, kota Armero dihantam dengan dahsyat oleh banjir lahar tersebut.
Sekitar 23.000 orang tewas seketika. Para korban terkubur dalam campuran lumpur dan puing bangunan. Secara keseluruhan, bencana ini menewaskan lebih dari 25.000 orang.
Bencana ini menjadi pelajaran tentang pentingnya komunikasi untuk mitigasi bencana. Hal ini terjadi karena saat itu pemerintah Kolombia sedang teralihkan oleh masalah perang gerilya di Bogota, sehingga situasi ketidakstabilan politik dianggap lebih mendesak daripada aktivitas gunung.
Selain itu, para ilmuwan Kolombia sedang kekurangan peralatan, keahlian, dan dukungan pemerintah untuk memantau aktivitas gunung. Akhirnya, mereka tidak bisa menyampaikan informasi secara efektif.
Sebelumnya: IESR: Kepastian Kebijakan Jadi Penentu Investasi Energi Surya
Selanjutnya: Misteri Hilangnya Atlet Golf Jesslyn Wijaya, dari Restoran di Jakpus hingga Malaysia
Artikel Terkait
- Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Naik
- DPR: Investor PFII Bakal Ditawari Pajak 0 Persen hingga 50 Tahun
- Prabowo Buka Kemungkinan Pangkas Anggaran TNI-Polri untuk atasi Kemiskinan
- Ajak Lulusan STIP Jakarta Jadi Guardians of Environtmen, Mendikti Bekali 4 Karakter
- SDN Pocin 1 Depok Dibongkar untuk Jadi Rumah Kreatif, Kini Hampir Rata dengan Tanah
- Detik-detik Menegangkan Pendeta di Sibolangit Selamat dari Kecelakaan Maut: Puji Tuhan, Kami Ditolong
- Trump Sebut Bakal Beri Tarif ke Kanada Gara-gara Asap Kebakaran Hutan
- Promo Weekend Indomaret Hari Ini 18 Juli 2026, Popok Balita Diskon 45 Persen
